Menikah Muda Part 4 : Tabungan Kami di Dunia dan (hopefully) di Pintu Surga

September 27th, 2007 by cikicikicik

Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1, Part 2 dan Part 3

Sepulang dari acara “PsychoCamp” sekitar Bulan Juli 1997. Ah, satu lagi acara yang menguras tenaga. Tentu saja. PsychoCamp adalah acara rutin Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi Unair dalam rangka orentasi mahasiswa barunya setiap tahun. Bertema alam, setiap tahun kemping diadakan selama 3 hari di hutan/bumi perkemahan. Acaranya tentu saja full outdoor activities khas emping macam hiking, outbond games (waktu itu yang namanya outbond belum seperti sekarang sih) sampai jurit malam dan api unggun.

PsychoCamp 1997 memberi warna beda dibanding tahun sebelumnya. Tahun 1995 posisiku sebagai mahasiswi baru, dan tahun 1996 aku absen karena harus mengambi cuti kuliah ketika pergi haji. Ditambah sedikit pelarian dari keadaan rumah tangga baruku (lihat di Part 3), maka di PsychoCamp 1997 itu semangatku selama kemping serasa membuncah sedikit melebihi yang seharusnya.

Ada

bagian dalam diriku saat itu yang tanpa kusadari ternyata sangat merindukan berkegiatan dengan teman-teman (kuliah). Tahun sebelumnya terasa amat panjang, penuh gejolak dan perubahan yang cukup drastis dalam hidupku, dari urusan pernikahan sampai dengan pergi menunaikan haji. Belum lagi perubahan status dari sekedar mahasiswi menjadi juga seorang istri. Dari anak kost menjadi seorang menantu yang numpang dirumah mertua. Kalau ada yang membaca tulisanku ini merasa harus melongo melihat betapa cepat hidupku berubah dalam kurun waktu setahun itu, percayalah, aku juga!

Tetapi, bahkan puncak adrenalin pun ada batasnya. Setelah beberapa waktu exciting dengan segala perubahan yang terjadi, ada masa dimana kemudian aku merindukan sesuatu yang telah hilang (atau sebenarnya tidak hilang, hanya berubah). Teman-teman, kampus dan segala pernik khasnya, organisasi yang sejak SMP selalu menjadi rumah kedua, semua yang aku tahu harus banyak terkurangi begitu aku menikah.

Maka acara PsychoCamp 1997 itu serasa jadi momen kembaliku. Melepas kerinduanku akan serunya berkegiatan dan ngumpul dengan teman-teman. Energi yang kukeluarkan lewat pikiran dan semangatku waktu itu, tanpa kusadari melebihi kapasitas tenaga fisikku. Begitu pulang ke rumah (rumah mertua maksudnya :-D), aku sempat mengalami kelelahan yang cukup parah.

Sampai sekitar seminggu kemudian, kusadari bahwa si tamu bulanan sudah 3 minggu telat datang… Nggak mengkhawatirkan juga karena memang biasanya si tamu itu tidak teratur datangnya, kadang terlalu cepat, kadang juga bisa lama telat… Mas Iwan lah yang kemudian iseng pulang bawa testpack kehamilan…dan ternyata memang hasilnya POSITIF!

….Alhamdulillah…!! Kami semua tenggelam dalam rasa syukur yang dalam… :-)

Tentang bagaimana semua orang semangat, sudah kutulis juga di tulisan terdahulu (lihat Part 3). Si bayi sempat kujuluki “The First”, since he/she will be the first of everything (child, grandchild from both sides of family, nephew, everything). Bahkan ketika masih berusia 2 bulan dalam kandungan, dia sudah merebut hati semua orang dan menjadi tumpuan harapan kami semua. Tentu saja, terutama aku dan suami. Semua sudah penuh dengan rencana-rencana menyambut datangnya “The First” kami. “Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk dia, menabung sebanyak mungkin uang didunia ini untuk kalian berdua” kata suami waktu itu yang tak urung kutingkahi dengan ngeri khawatir. Masih mungkinkah ada yang namanya bekerja “lebih keras” lagi daripada dia waktu itu?

Tidak mengherankan jika kemudian awal kehamilanku menjadi sangat menyenangkan. Selain karena dari sebelum baligh pun aku sudah membayangkan betapa cool nya kalau aku nanti hamil, juga karena semua orang kelihatannya tidak ingin melakukan apa-apa kecuali memanjakanku. Aku bahkan sangat menikmati morning sick yang katanya menyebalkan itu :-D

Suatu sore kira-kira 2 bulan kemudian, sepulang kuliah aku dan mas sedang jalan ke toko buku. Saat pergi ke toilet, aku mendapat kejutan berupa flek merah yang cukup banyak. Jelas-jelas merah. Dan banyak! Tak terbayang panikku saat itu. Dengan motor kami langsung pergi ke dokter. Parahnya, antrian sedang banyak dan baru sekitar 4 jam kemudian aku tertangani dokter, itupun setelah mas memaksa-maksa suster penjaga dan mengatakan kalau ini keadaan darurat! Antrian di beberapa dokter2 kandungan senior di Surabaya memang sudah nggak masuk akal!

Singkat cerita akupun berakhir bedrest di RS malam itu…

Ada

hikmahnya juga antri lama, karena memberi waktu ibukku datang dari Tulungagung ketika aku masuk kamar RS. Sungguh hanya beliau yang bisa membuat tenang hatiku. Masih besar harapan, kata dokterku, asal aku bedrest. Sampai berapa lama? Salah satu dari sedikit dokter kandungan wanita yang senior itupun mengangkat bahu. Kita lihat saja nanti…Yang jelas, pasien disebelahku bercerita kalau dia harus bedrest total selama kehamilannya. Sudah 6 bulan dia “tinggal” di RS Darmo

Surabaya

. Beri kami kekuatan Ya Allah…begitu batinku terus. Saat itu akupun masih sempat memikirkan UTS yang sudah sebentar lagi. Beri aku kekuatan Ya Allah, aku ingin bisa ikut UTS atau kuliah akan molor lebih lama lagi karena semester sebelumnya aku sudah mengambil cuti.

Semua orang dengan berdebar mendoakan kami…Teman-teman kuliah tak ketinggalan menunggui di RS sambil secara sok tau menganalisa kenapa sampai aku keluar flek :D. Rata-rata menduga PsychoCamp lah sebabnya. (Percayalah, mereka memang benar2 teman yang patut dirindukan sampai sekarang :-D). Apa mau dikata, waktu itu memang aku belum sadar kalau aku hamil, dan memang aku beraktivitas selayaknya orang yang tidak hamil muda! Hiking naik turun bukit, ikut loncat2 selama games, dan banyak lagi. Yah…meskipun mungkin benar, yang pasti Allah pasti punya rencanaNya sendiri. Banyak juga kulihat ibu-ibu yang walaupun hamil muda tetapi tetap aktif bahkan bekerja, dan bayinya terbukti baik-baik saja. Semua ada ditangan Allah…

Setelah 4 hari bedrest pun, kabar gembira itu datang. Aku boleh pulang, asalkan tidak banyak bergerak dan rajin minum obat. Kuliah boleh, asalkan dalam rentang waktu seminggu kemudian, dan flek tidak keluar lagi. Dan aku hanya boleh naik turun tangga sekali sehari (ruang kelas di kampus ada di lt. 3).

Baru 2 hari aku dirumah, dan ibukku pun baru sore tadi pulang ke Tulungagung. Malamnya, kurasakan sakit yang semakin lama semakin amat sangat menjalar di punggung bawahku. Semalaman sakitnya bukan berkurang, malah bertambah hebat. Selama ini banyak yang selalu mengagumi kemampuanku menahan sakit, tapi yang ini benar-benar tak tertahankan lagi. Tengah malam, susah payah aku pergi ke kamar mandi. Untunglah, nggak ada flek. Tapi kenapa sakitnya tak kunjung berakhir juga? Sekilas, aku melihat wajah ibu mertua yang ikut menjagaku, sudah menggambarkan rasa sedih yang pasti. Akan keguguran kah aku?? Oh, tidak Ya Allah, aku tidak boleh berhenti berharap padaMu…batinku terus menerus sesering rasa sakit yang amat sangat itu menghampiri. Aku cek lagi, tak ada flek yang keluar. Mengingat itu aku menjadi agak tenang dan memutuskan untuk mencoba tidur. Berhasil, karena memang aku kelelahan menahan sakit.

Sekitar pukul 4.30 paginya, aku terbangun karena sakit yang kurasakan menjalar lagi, dan rasa mendesak yang membuatku setengah lari pergi ke kamar mandi. Di terangnya lampu kamar mandi, jelas kulihat benda itu teronggok jelas di lantai. Bukan flek, bukan…ini lebih dari itu…”The First”-ku…

Lama dan lemas aku terduduk diam di lantai kamar mandi. Dengan wajah beku kulihat benda merah berlendir sebesar bola tenis didepan mataku. Punggungku yang semalaman terasa sakit, juga terasa beku…Pikiranku, hatiku, rasanya sekujur tubuhku memang membeku…tak berasa apa-apa kecuali kelu…

Sampai kudengar kemudian adzan subuh sayup2 terdengar….”Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun…” bisikku lirih dan sendiri…dengan bibir yang kurasakan bergetar, kemudian membeku…

Yang kuingat selanjutnya suara mas yang terbangun, agak lama juga kemudian kudengar dia menyebut bisik lirih yang sama. Yang kemudian mengangkatku, menggendongku dan membaringkanku kembali ke kamar tidur.

“The First kita mas….”, bisikku sambil kupeluk lengannya, kusadari baru pecah tangisku melihat lengan mas yang basah oleh air mata…

Waktu itu sebuah Kamis pagi di akhir Oktober 1997…

Pic04664

****

Senin paginya, teman-teman menyambut dengan gembira ketika aku datang ke kampus untuk hari pertama Ujian Tengah Semester. Begitu gembiranya mungkin, sampai-sampai tak ada yang menyadari gelayut mendung yang tak biasa di wajahku yang sebelumnya selalu cerah.

“Ingat, cuma boleh naik turun tangga sekali lho,” salah seorang teman mengingatkan.

“Mas Iwan aja suruh gendong Wahida keatas,” goda teman yang lain.

“Nggak papa, asal hati-hati naiknya, aku tunggu di kantin bawah ya,” jawab mas Iwan seraya menitipkan istrinya.

Selesai ujian, ketika banyak teman mengerubutiku, barulah aku cerita kalau 3 hari yang lalu aku baru saja dikuret, untuk mengeluarkan ari-ari si kecil yang sudah diminta kembali oleh Allah…

Sampai detik ini ketika aku menulis cerita ini pun, masih teringat betul suasana syahdu di ruang kelas tempat UTS diadakan itu. Kita menangis bersama, mereka menguatkan hatiku, saling menyeka air mata masing-masing di bangku ruang kuliah, berdoa bersama dan… ah, sekarang pun kerinduanku pada teman-teman jadi bangkit kembali. Kelak, akhir-akhir ini ketika beberapa teman yang menghiburku dulu itu mendapat ujian dan cobaan dari Allah menyangkut keluarga dan anak2nya, aku tidak bisa memberikan perhatian seperti yang mereka dulu berikan padaku (karena sekarang kita sudah hidup berjauhan dengan keluarga masing-masing). Bahkan sekedar memeluk bahagia ketika mereka melahirkan pun terkadang hanya bisa dilakukan lewat sms, chat setelah 3 bulan kemudian atau hanya via email. Duuhhh aku benar2 benar rindu kalian, sahabat-sahabatku, kalian lah penguat hatiku dikala aku rapuh…

Ada

seorang teman, aku memanggilnya mbak Lely. Dia lah yang paling paham soal agama diantara kami. Sambil memeluk dan mengelus pundakku, dia membisikkan kata-kata ini padaku, “Kalau ada seorang ibu yang ikhlas ketika anaknya diambil kembali oleh Allah SWT, InsyaAlloh, anak itu akan menjadi tabungan di akhirat kelak. Dia akan menunggu ibunya di pintu surga, dan akan terus menolak masuk sebelum Ibunya datang menjemput dan menemaninya memasuki jannah…Sungguh Wahida, aku begitu iri denganmu!”

Mbak Lely yang sangat kuhormati, kukagumi dan kusayangi ini, akhirnya selamanya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang Ibu, karena sekitar tahun 2002 yang lalu, setelah baru saja 2 bulan menikah, mbak Lely meninggal karena kecelakaan lalu lintas yang dialaminya… (Ya Allah, doaku senantiasa untukmu mbak…)

Hikss… ^_^

(bersambung)

Bookmark and Share

Menikah Muda Part 3 : Kerikil Yang Mulai Menguji Kesabaran

September 23rd, 2007 by cikicikicik

Wah sekarang sudah ada editor yang mengejar-ngejar dan ngoprak-ngoprak postingan lanjutan kisah pernikahanku hueheheheh (terimakasih perhatiannya temans, specially tya dan mas yudi kalian lah penyemangat bagi mood menulisku yang hari-hari ini lagi dudul, well maklum Ramadhan banyak rutinitas khusus –alasan.com- hehehe)

Oke, ini dia Bagian ke-3…

Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1 dan Part 2

***

Dsc04387Mengapa kupilih dia menjadi suamiku?

Karena dialah laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta, itu sudah pasti. Bagaimana dia bisa membuatku jatuh cinta? Well, I’ll tell you why…yang pasti bukan cinta pada pandangan pertama karena meskipun percaya, tetapi aku tahu pasti bahwa “love at a first sight” is definitely not for me..it just won’t work on me… :D

Masalah agama, tidak usah ditanya lagi merupakan suatu keharusan yang mutlak, tentu saja. Sholat tertib dan lain sebagainya ibarat seleksi adalah tahap pertama yang sudah dilewati si mas. Tetapi lebih khusus lagi, ada sifatnya yang waktu itu ternyata sanggup menawan hatiku dan membangkitkan kekaguman dalam diriku. Lebih dari cowo-cowo lain yang pernah mendekatiku.

“Dia adalah orang yang tanpa ragu akan mendahulukan dirinya sendiri ketika menghadapi kesusahan, dan sebaliknya, dia orang yang juga tanpa ragu akan mendahulukan orang lain ketika menghadapi kesenangan”. Kenyataan ini kusaksikan dengan mata pikiran dan hatiku sendiri ketika selama lebih 2 minggu berkegiatan di Pondok Pesantren Liburan tempat kami bertemu, melalui bagaimana cara dia memperlakukan orang lain (khususnya anak-anak kecil dan orang tua). Menunjukkan sebuah rasa tanggungjawab yang luar biasa.

Bagiku cukup sudah, itulah syarat utama untuk menjadi seorang laki-laki sejati dimataku. Seorang suami dan imam yang pantas kelak, seorang figur ayah dan laki-laki yang akan menjadi panutan anak-anakku nantinya. Walaupun waktu itu dari luar penampilan dan cara bergaulnya tidak berbeda dengan remaja seusianya yang lain, tetapi ketika aku melihat kedalam dirinya, bahkan ketika masih berumur 18 tahunpun, dimataku dia adalah sosok laki-laki dewasa yang matang dan sejati.

Laki-laki yang akan bisa dan mau diajak untuk segera menikah…. :-)

***

Kami pulang dari perjalanan haji (1997) dengan membawa segudang rencana berdua. Setidaknya ada 3 poin rencana besar : kerjaan, anak dan kuliah. Kami (terutama aku tentu saja :D) ingin secepatnya menimang bayi, apalagi setelah haji selesai, maka akupun bebas untuk hamil. Kuliah sambil ngurusin anak? Well, no problemo karena memang aku sudah siap (paling nggak secara mental). Bagaimana caranya? Well, we’ll figure it out somehow, wong memang sudah niat, insyaAlloah pasti akan ada jalan, begitu pikirku saat itu :D

Saat itu kami masih tinggal menumpang dirumah mertua. Sebelumnya, sudah sejak SMA si mas sudah terbiasa bekerja. Dari yang sifatnya membantu usaha orangtua maupun proyek “apa saja” yang dia kerjakan bersama beberapa temannya di “Gang Molen”. Dari event organizer, usaha sablon sampai order membuat panggung, semua mereka kerjakan. Aku masih ingat betul, mas kawin dan biaya akad nikah kami dulu adalah hasil dari proyek si mas membuat dekorasi panggung untuk acara off-air dangdut nya Indosiar :D

Dengan sifat mandiri dan tanggungjawab yang dimiliki suami (sifat yang dulunya telah membuatku jatuh cinta padanya), sebenarnya aku tidak heran ketika sehabis menikah, keluar ultimatum ini : “Mulai detik ini, aku suamimu yang akan bertanggungjawab penuh atas kamu. Maka perlakukanlah aku sebagaimana seorang laki-laki dengan memutuskan ketergantunganmu secara finansial dari orangtuamu, seberat apapun itu!” Maka resmilah, hasil kerja serabutannya yang dulu hanya menjadi tambahan uang saku buat dia, sekarang menjadi tulang punggung keuangan kami berdua. Dan kalau merujuk pada jumlahnya, setelah diambil untuk biaya kuliah kami berdua, tinggal sedikit saja yang akan tersisa (kalau tidak mau dikatakan hampir habis).

Secara ide, aku setuju sekali dan tak urung merasa menjadi istri yang bangga. Tetapi ternyata dalam prakteknya, hal ini seringkali memicu pertengkaran diantara kami. Keteguhan suami dengan ultimatumnya itu, kadang-kadang karena keadaan dan kebutuhanku, kurasakan sebagai hal yang keras kepala dan egoistis seorang laki-laki. Sepeserpun, dia nggak mau memakai tabungan yang sudah kupunya sejak sebelum menikah (kecuali untuk kebutuhan buku kuliahku, dia masih mengijinkan, untuk buku, bukan untuk SPP). Bukan hanya aku, tetapi orangtua dan mertua seringkali harus sedikit mengelus dada karena sepertinya mas ini alergi menerima bantuan uang walaupun sekedarnya.

“Kita harusnya sudah cukup malu karena masih tinggal menumpang di rumah bapak dan ibu,” begitu dia selalu membujukku. Niat kita untuk mengontrak atau kost memang tidak kesampaian karena ibu mertua keburu menangis memohon kami untuk tinggal dirumah beliau. “Mungkin akan lebih mudah kalau orangtua kita miskin, tetapi dengan kondisi ekonomi orangtua kita yang cukup berada, kita harus lebih kuat lagi dalam berjuang menghindarkan diri kita dari kemanjaan dan ketergantungan seperti ini… Ayolah, nduk, ini rumah tangga kita sendiri khan??” begitu dia selalu menguatkan hatiku, dan kalo dia sudah memanggilku dengan sebutan “Nduk” begini, rasanya aku sudah luluh kehabisan rasa untuk menjawab.

Siapapun pasti tahu (khususnya wanita hehe), awal-awal tinggal dengan ibu mertua merupakan sesuatu yang challenging. Bahkan dengan mertua sebaik mertuaku, aku masih sering merasa homesick. Rindu keluarga di kampung, terutama ibuku. Sebelum menikah, setiap weekend aku selalu pulang kampung ke Tulungagung (ingat khan betapa aku adalah anak rumahan??). Perjalanan dengan bus selama 3-4 jam itu sudah jadi rutinitas bagiku setiap Jumat sore. Setelah menikah, masa-masa adaptasi tinggal dirumah ibu mertua menjadikan kebutuhanku untuk pulang kampung, bertemu ibukku dan nge-charge diri secara emosional semakin menjadi-jadi.

Maka dimulailah masa-masa yang menguji kesabaran itu…

Kerinduanku pada rumah dan keluarga di kampung, seringkali berujung dengan tangisan sendu sendiri di kamar kami. Mas sering menolak untuk pulang ke Tulungagung karena sekedar ongkos bus pun seringkali tak punya. Mending kita simpan untuk bensin motor buat kuliah dan kerja, selalu begitu alasannya. Tabunganku yang kukumpulkan waktu sebelum menikah, out of question, tak layak dipakai.

Beberapa kali aku lepas kontrol dan menyebut mas kepala batu, keras kepala (astaghfirullah) dan dijawabnya dengan memberikan 2 pilihan “Terserah kamu, kamu sabar sampai aku dapatkan uang untuk ongkos kita ke Tulungagung, atau kamu pulang saja sekarang sendiri.” Seringkali aku dengan emosional berniat berangkat saja sendiri ke kampung, tetapi untungnya Allah masih melindungi dan itu tidak pernah sampai terjadi.

Waktu itu, mas baru saja keluar dari Gang Molen, dan memutuskan untuk memulai usahanya sendiri. “Teman-teman di Molen berjalan cepat, sedangkan aku perlu berlari cepat sekarang,” alasannya. Dalam hati aku pun sering merasa bersalah, karena merasa membuatnya berada dalam tanggungjawab dan beban yang teramat besar gara-gara menikahiku. Ketika teman-teman seusianya sedang seru-serunya “gaul” sana-sini, Mas Iwan menghabiskan waktunya untuk banting tulang mencari nafkah bagi kami. Pagi kuliah, siang sampai sore dihabiskannya di proyek tempatnya bekerja di salah satu dosennya di Teknik Sipil. Seringkali malam baru pulang, ketika aku sudah terlelap tidur. Ketika di akhir pekan kuliah libur, itu adalah waktu berharga yang bisa dihabiskannya untuk…bekerja diluar kota! Waktu itu dia sedang menjajaki usaha berdagang, dan survei yang dia lakukan bisa memakan waktu 2-3 hari perjalanan ke luar kota. Hanya sekali aku diijinkan ikut (itupun setelah bujuk rayu kulancarkan), tetapi tidak pernah lagi karena selain pertimbangan biaya yang membengkak, kondisi fisikku tidak sanggup mengimbangi ritme kerjanya yang luar biasa (siapa yang bisa? pikirku waktu itu).

Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja, homesick dan keinginanku pulang kampung semakin jarang aku ungkapkan. Aku sungguh tidak tega. Waktu dimana kemudian tiba-tiba dia menawarkan untuk pulang kampung (biasanya sebulan sekali, pernah sampe 3 bulan) selalu kusambut dengan air mata haru dan rasa syukur yang tidak terkira. Tak kubayangkan, pulang menemui ibukku yang dulu menjadi rutinitas tiap akhir pekanku, bisa begitu nikmatnya kurasakan…

Aku paling suka perjalanan pulang kampung bersama mas waktu itu. Saat itulah, di bus, selama 4 jam perjalanan kita bisa punya waktu mengobrol panjang lebar. Tentang apa saja. Kelak, sampai sekarang pun kebiasaan mengobrol dalam kendaraan ini masih menjadi aktivitas yang kami berdua sangat sukai. Bedanya, dulu di bus aku bisa dengan bebas sandaran di bahu mas, sedangkan sekarang tidak karena dia harus menyetir (dua-dua nya menyimpan kenikmatan sendiri karena berarti sekarang kita sudah bisa membeli mobil sendiri khan :D)

Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja juga yang akhirnya membuatku memutuskan untuk menghabiskan waktuku di kegiatan kampus. Daripada menghabiskan waktu merenungi diri sendiri yang meskipun baru menikah tapi sering ditinggal suami sampai malam bahkan berhari-hari (untung waktu itu belum ada istilah “jablai” ya :D). Dunia organisasi yang sudah kuakrabi sejak SMP pun menjadi pelampiasan yang positif. Kepengurusan di Senat yang praktis banyak kutinggalkan setelah menikah, akhirnya menjadi rumah kedua lagi buat aku.

Aku membayangkan, waktu itu pasti mertuaku sering mengernyitkan dahi campur prihatin melihat kesibukan kami berdua. Kulihat Mas Iwan sering menenangkan hati ibunya bahwa kami baik-baik saja, dan harap maklum karena memang lagi sibuk2nya di kampus.

Di tengah ritme kesibukan kami yang luar biasa dan intensitas pertemuan kami yang sangat terbatas itulah, muncul kabar gembira. Sepulang dari kegiatan PsychoCamp (program orientasi senat untuk mahasiswa baru) di daerah

Malang selama 3 hari, aku mendapati bahwa aku hamil…. :-)

Semua menyambut dengan antusias. Orangtua dan mertua (mau punya cucu pertama!), adik-adik, ipar dan teman-teman di kampus (mau punya ponakan pertama!), dan tentu saja kami berdua (tentu saja ini akan jadi anak kami yang pertama khan?). Teman-teman di kampus sudah sibuk membuat jadwal siapa yang sedang off kuliah untuk jagain anakku waktu diajak ke kampus :D (duh…I miss u guys all now hiks). Mertua sudah menyiapkan banyak rencana apa yang akan dilakukan bersama cucunya nanti saat aku harus kuliah. Orangtuaku malah sudah merencanakan membeli rumah supaya bisa sering-sering menginap di

Surabaya (rumah yang tentu saja Mas Iwan sudah menolak untuk tinggali, kecuali dia boleh mengontrak dari Bapakku :-S). Kehamilaku baru menginjak 2 bulan ketika dada semua orang sudah penuh dengan semangat dan rencana untuk bayiku nantinya. Sambil tersenyum mengelus perutku, aku selalu bilang pada si kecil “kamu sungguh beruntung…”

Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa kegembiraan dan antusias kami semua waktu itu adalah awal dari sebuah ujian besar dalam sejarah rumah tangga kami…

(to be continued…:D)

Bookmark and Share

Menikah Muda Part 2 : Newlywed Yang Menggetarkan Hati

September 19th, 2007 by cikicikicik

Postingan aslinya ada disini

Ini lanjutan dari cerita hidupku (cie). Mudah-mudahan mengandung hikmah untuk diambil semua…(Menikah Muda Part 1 dapat dibaca disini :D)

HajiTak bisa kupungkiri, masa-masa newlywed benar-benar yang terindah, dan menjadi masa “pacaran” kita yang benar-benar menggetarkan hati.

Banyak kejadian lucu mengingat walaupun aku punya banyak teman cowo, tetapi jelas sekali pengalamanku menghadapi laki-laki sebelumnya hanyalah sebatas perlakuan sebagai teman, tidak melibatkan tetek bengek keintiman (apalagi erotisme) khas suami-istri. Ini juga yang menjadi olok-olok seru sahabat2 cewekku, karena aku yang dikenal paling lugu urusan cowo, eh kok ternyata paling dulu menikah. Seorang sahabat mengingatkan lagi kejadian lucu di bangku kelas 2 SMP ketika guru pelajaran agama kami menjelaskan bahwa tanda seorang laki-laki baligh adalah mengalami “mimpi indah”, dan dengan lugunya, didepan teman2 yang lain aku tanya ke salah satu temen cowokku waktu itu “eh, kalo mimpi indah itu kamu jadi apa? Superman atau Batman?” :D Puas aku diketawain seisi kelas waktu itu.

Pernikahan “dini” ku tak urung cukup membuat geger teman2, apalagi teman2 SMA yang tidak pernah melihatku “dekat” dengan cowo manapun selama masa sekolah. Banyak juga saudara dan teman orangtua yang mempertanyakan, tak sedikit yang memprotes, bahkan banyak pula yang curiga kalau aku menikah karena telah hamil. Yah, nggak heran, mengingat latar belakang pendidikan dan sebagainya, keputusan menikah begitu lulus SMA memang layak dianggap aneh waktu itu.

Masa-masa indah newlywed masih berlanjut beberapa bulan kemudian, ketika kami diberi kesempatan untuk pergi menunaikan ibadah haji berdua. ONH-nya hadiah pernikahan dari orangtua. Bagi banyak orang (termasuk bpk2/ibu2 teman serombongan haji) adalah hal yang sangat seru melihat kita pasangan remaja yang baru menikah, dan (mereka menyebutnya) berbulan madu di tanah suci. Bagi kami sendiri, dibanding acara bulan madu, tanpa diduga perjalanan haji kami waktu itu lebih mirip sekolah, ajang training, semacam pendidikan dan pelajaran khusus bagi perjalanan rumah tangga kami nantinya.

Kejadian2 “ajaib” yang banyak hanya kami dengar terjadi ketika seseorang berada di tanah suci dan masih sulit untuk kupercaya, ternyata banyak sekali kami lihat dan alami dan hampir semuanya bertema “suami-istri”. Dari sepasang suami-istri yang suka sekali bertengkar sampai-sampai jatuh talak di kamar pondokan (bayangkan, mereka sedang berhaji!), seorang istri yang suka melawan suaminya dan akhirnya sempat hilang selama 3 hari gara-gara tidak menuruti kata-kata suaminya, sampai dengan romantisme pasangan manula yang sangat kompak dan kelihatan masih sangat menggairahkan bagi satu sama lain, semua menjadi pelajaran berharga buat kami yang waktu itu baru saja memasuki gerbang pernikahan. Banyak tauladan yang kita lihat, untuk dicontoh dan juga dihindari. Sering sekali setelah menyaksikan suatu kejadian, kontan kita berdua saling berpandangan penuh arti, dan serta merta dalam hati berjanji untuk tak henti memantapkan niat dan tekad karena Allah SWT, dalam mengarungi bahtera kami berdua nantinya.

Pernah suatu kali kita sedang mengobrol santai membahas pekerjaan si mas yang masih serabutan, dan berandai-andai sekaligus merencanakan tentang nasib ekonomi keluarga kecil yang baru kami bangun ini. Obrolan ringan dan santai, penuh khayalan khas pasangan muda (ciee hehe). Seperti, bagaimana nikmatnya kalau suatu hari nanti kita bisa membeli rumah sendiri, saat itu malah kami sedikit eyel2an karena mas mengungkapkan keinginannya untuk membangun rumah yang ada menaranya (kaya masjid), dan saya menganggap itu sangat konyol :D. Saat itu hampir ashar di pelataran masjidil haram ketika kami sampai pada kesimpulan betapa khayalnya kami, mengingat pekerjaan mas pun masih serabutan. Pekerjaan-pekerjaan khas mahasiswa gitulah… :D.

Tiba-tiba, ada seorang Bapak yang mengaku jamaah haji dari sebuah daerah di Madura mendekat. Sama dengan hampir semua orang, dia berkomentar sangat mendukung dengan pernikahan kami. Dengan bijak dia menasihati bahwa urusan rezeki, semua Allah yang mengatur, dan ketika manusia sudah menggenapkan separuh agamanya dengan menikah, Allah berjanji akan mencukupkan apapun kebutuhan. (Bingung juga, apa dia memang menguping obrolan kami ya? Perasaan, nggak ada orang didekat2 kami sebelumnya…). Tak lama kemudian dia menunjuk ke suatu arah, dan dia pun mulai bercerita tentang Biir Zam-Zam, titik dimana air zam-zam dulunya pertama kali memancar. Tak banyak jamaah yang tahu keberadaan sepetak lingkaran marmer bertanda khusus diantara pintu masuk sumur zam-zam dan Ka’bah itu. Si Bapak ini kemudian memberikan secarik kertas berisi lafal do’a dan menyuruh kita berdua untuk membaca do’a ini diatas tanda Biir Zam-Zam ketika selesai kami tawaf. Kami masih persis ingat betul pesannya, “Panjatkanlah do’a ini kepada Allah di tanda Biir Zam-Zam itu. InsyaAlloh, biar kata kamu nanti cuma jualan PAKU sekalipun, orang-orang yang membelinya akan merasa membeli emas…”. Ketika kami masih mencoba membaca tulisan di secarik kertas itu, si Bapak pun sudah pergi menghilang entah kemana, tanpa kami pun mengetahui sekedar siapa namanya.

Saat itu, bahkan ketika kami memanjatkan doa seperti yang dinasihatkan si Bapak itu, tentu saja sama sekali tidak ada satupun dari kami yang tahu atau mengira, bahwa sampai detik ini pun, nafkah yang kita dapat untuk hidup keluarga kita adalah hasil dari usaha suami yang distributor PAKU!!

Termasuk didalamnya, satu kejadian “ajaib” terjadi pada kami berdua melibatkan sesosok wajah bercahaya berbaju jubah putih yang “misterius”. Suatu siang yang terik kami berdua mengalami hari yang sial (belakangan kita setuju hari itu bukanlah hari sial, malah sebaliknya). Dengan berjalan kaki dan lupa bawa dompet (sehingga kehabisan uang setelah sekedar uang yang kami bawa di kantong habis), kami tersesat di sebuah jalan sepi ditengah padang pasir. Ini agak mengherankan karena biasanya suami sangat teliti mengingat jalan. Setelah hampir 4 jam berlalu, sudah menjelang malam dan kami belum juga menemukan arah kembali. Jalanan sepi tak meninggalkan banyak orang ataupun bus/taksi yang bisa kami tumpangi. Lapar, lelah, tak ada uang sepeserpun dan sedikit putus asa, suami memutuskan untuk duduk istirahat.

Nggak jelas darimana asalnya, tiba-tiba saja si sosok ini menghampiri kami berdua. Kulihat dia membawa tas kresek hitam yang kelihatan penuh. Setelah berkenalan (dia mengaku orang Pakistan dan bekerja di Saudi) dia mendoakan rumah tangga kami dan mengungkapkan betapa gembira dan bersyukurnya dia melihat 2 orang yang masih sangat muda tetapi sudah mau menikah. Tak disangka, diapun menyerahkan kresek hitamnya, “sebagai hadiah” katanya. Diapun berlalu, meninggalkan kami yang melongo saling pandang demi melihat kresek yang penuh dengan buah-buahan, minuman dan roti. Si kresek itulah yang kemudian memberi kami energi untuk berjalan kembali, dan ajaib, tak kurang dari 1 jam kemudian, kita sudah berhasil menemukan jalan pulang.

Oya, sebelum menyerahkan kreseknya, sosok berwajah mengagumkan itu membuat kami berjanji membawa pulang 2 nama yang kelak akan kami pakai menjadi nama anak-anak kami. Omar dan Namira. Sepasang nama laki-laki dan perempuan. Sekarang, sepasang anak kamipun sudah menyandang nama titipan itu. Omar Charis Atthabrizi (Abe) dan Namira Bai’atifa Azzahra (Bea). Yang lucu (dan agak ajaib), bertahun kemudian setelah kami tanya sana-sini ke teman yang mengerti Bahasa Arab, ternyata kata-kata Omar merujuk kepada makna “Singa” sedangkan Namira pada makna “Singa Betina”. MasyaAlloh…(ternyata aku melahirkan sepasang “singa” ya… :D)

Hal-hal yang dulu kurang kupercaya (karena hanya kudengar dari cerita orang) ternyata memang nyata terjadi didepan mata kepalaku sendiri menimpa kami. Dan bukan hanya yang kutulis disini, masih ada beberapa cerita “ajaib” lainnya (terlalu panjang kalau ditulis semua kayaknya ya…:D). Apapun itu, perjalanan haji kami yang pertama ini sungguh suatu nikmat anugerah Allah SWT yang akan terus terasa nikmat dan hikmahnya sampai kapanpun…

Ide menikah muda yang sudah bersarang dibenakku sejak lama bahkan sebelum aku tumbuh remaja, dalam prakteknya ternyata tidak seindah dan semudah yang kubayangkan sebelumnya. Setelah masa newlywed yang menggetarkan hati, dimulailah babak baru dalam pernikahan kami. Babak yang akan paling banyak menunjukkan arti sebuah pernikahan. Sisi baru yang menguji semuanya… penyatuan 2 hati menjadi 1 bahtera kehidupan yang bernama Rumah Tangga.

Bagaimana itu? Perasaan postingan ini udah teralu panjang deh… Bersambung dulu aja ya… :D

PS : terimakasih banyak untuk temen Friendster yang kasih komentar, maaf aku nggak bisa reply *duh admin…kapan ya aku bisa kasih komen lagi..?? hikss* atau silahkan saja ke http://cikicikicik.multiply.com 

Bookmark and Share

Menikah Muda Part 1 : Jawaban Dari Doa Ibunda

September 10th, 2007 by cikicikicik

Bpkibu2 Tiap kali dapet kenalan baru dan obrolan sampai ke masalah perkawinan (kapan nikah, udah berapa lama, anak sudah berapa dll), aku selalu berhasil membuat orang lain melongo. Itu setelah mereka tahu kalau 11 tahun yang lalu, aku menikah waktu umur 19 tahun sementara suami 20 tahun. Dan akhirnya berulang-ulang saya harus cerita panjang lebar tentang sejarah pernikahanku. Nah, daripada begitu, mending ditulis aja di blog ya, kalau nanti ada lagi yang tanya, biar langsung aja kusuruh buka blog ini dan baca sendiri huehehehe. Silakan betah2in deh bacanya, cos this will be a loooong story.. :b

Kok bisa ??  <======biasanya ini reaksi pertama :D

Bisa dong. Wong sudah cita-cita. Ini semua berawal dari ibuku sendiri. Beliau menikah muda juga (18 tahun) dan dengan berlalunya waktu, dari kecil aku sudah menyadari kalau menikah muda itu banyak asyiknya ya. Waktu aku sudah SMP, ibuku masih “cukup gaul” dan banyak energi untuk anak-anaknya. Maksudnya, generation gap nya nggak terlalu jauh gitu lho hehe. Thus, bukan hal yang rumit juga kalau akhirnya aku pun bercita-cita untuk bisa menikah muda.

Enteng jodoh banget ya??

Nah kalo urusan ini jangan tanya aku. Masalah bagaimana aku bisa menemukan jodoh dengan cepat, bagiku juga sama misteriusnya. Semua rahasia Allah. Yang pasti aku sangat bersyukur karena ternyata jalanku sangat dimudahkan. Aku nggak tahu apa ini ada hubungannya atau tidak, tapi sejak aku kecil beranjak abg gitu, ibuku selalu wanti-wanti, katanya kalau mau jodohnya lancar, jangan pernah suka bermain-main dengan cowo. Beliau percaya karma bahwa (misalnya) kalo kita sering ganti2 pacar, biasanya dapetnya suami tidak akan seperti yang diharapkan. Benar atau tidaknya ya aku nggak tahu, kasus per orang

kan

beda-beda hehe. Aku sih nggak terlalu mau percaya 100 persen sama karma itu. Yang jelas, aku pun memutuskan untuk tidak mau pacaran sebelum lulus SMA (padahal konon banyak yang ngajak tuh ehm ehm..hihihihi ge-er banget ya :D)

Oya, berhubungan dengan masalah ini, seringkali sekarang2 ini aku dicurhati teman2 yang kebetulan masih jomblo. Habis itu biasanya mereka trus tanya, “apa dong resepnya gampang ketemu jodoh?”…..nah kalo sudah gini gantian aku yang pusing jawabnya…. Nggak ada resep!! Yang terjadi di hidupku juga mengalir begitu saja. Kata orang mah jodoh memang urusannya sama nasib. Rahasia Allah.

Yang menarik, belakangan setelah beberapa tahun aku menikah, ibuku mengakui bahwa ada satu doa yang dari dulu kala tak pernah lupa dia panjatkan ke Allah. Doa itu adalah supaya aku (anak cewe satu2nya) dimudahkan jodohnya, diberikan jodoh yang baik, baik dimata Allah dan baik dimata manusia. Beliau bilang, alangkah sengsaranya dia kalau seandainya putrinya harus mendapat suami yang tidak baik, jahat, pemalas, dlsb, rasanya akan percuma membesarkan anak dengan penuh kasih sayang kalau pada akhirnya dia harus menghabiskan sisa hidupnya bersama suami (jodoh) yang tidak baik. Mengharukan ya? Hihi. Sekarang pun, aku mencontoh beliau dan mendoakan yang sama untuk anak-anakku (terutama Bea) :D

Gimana proses ketemunya??

Wah, kalo disuruh nulis, kasihan yang baca nanti. Bakal bosan! Kalah deh pokoknya novel2 picisan hueheheh. Yang pasti ya itu tadi, semua serba dimudahkan (masyaAllah)… Padahal pertama-pertama ketemu si mas dulu, sebelnya bukan main karena dia suka sekali mendebat apa saja yang keluar dari mulutku. Apalagi kita pertama ketemu di forum Pesantren Liburan (di daerah Ponorogo, waktu itu aku baru saja naik kelas 3 SMA), jadi sehari-hari dia seperti nggak kehabisan bahan untuk mendebatku…padahal aku paling nggak suka kalo diajak berdebat!

Kuasa Allah juga yang bisa membalik-balikkan hati manusia, diakhir acara pesantren liburan yang cuma selama 2 minggu itu, bukan sebal lagi yang ada di hati ini. Next time I know, about 8 months later, it officially became the first romance for both of us. Hehe..bener deh, bagian yang ini nggak usah ditulis, bisa2 sepanjang satu buku novel sendiri! :D

Trus, proses menikahnya??

Sebelumnya, biar kujelaskan dulu model pacaran kita selama aku masih belum lulus SMA (di Tulungagung) dan si mas di

Surabaya

. Ketemunya sebulan sekali. Hari Minggu pagi jam 8 biasanya dia sudah sampai dirumah (berangkat subuh bo!! hehe). Apa yang langsung dilakukannya begitu sampai dirumahku? Dia bebas pilih, mau duduk sendiri tak berteman di ruang tamu, atau gabung di ruang keluarga dengan aku (plus 2 adik laki2ku yang masih SD dan 2 sepupuku) untuk nonton Doreamon! :D Karena, jangan harap aku mau mengorbankan jadwal nonton Doraemonku untuk nemenin pacar, nggak akan! Hahaha!

Dan percayalah, begitu dia masuk ke ruang keluarga dirumahku (pada Hari Minggu pula), maka sama saja dia harus ngapelin 8 orang sekaligus sepanjang hari (bapakku, ibukku, aku, 2 adikku, nenekku, dan 2 sepupu yang tinggal dirumahku). Mau ajak pergi berdua? Sebelum minta ijinpun dia sudah tahu kalo bapakku nggak akan ngasih. Kalopun bapak ngasih, akunya juga belum tentu mau, jadi si mas ternyata cukup mengerti untuk tidak meminta huehehehehe… what can I say? I was really such a family-homy girl hehe… Ini berlangsung selama sekitar 4 bulan sebelum kemudian aku lulus sekolah (jadi ceritanya, tekad untuk nggak pacaran sebelum lulus SMA gagal tercapai dong…hihihi).

Selepas SMA, sudah lama aku mengincar Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran di Bandung. It said to be the best for Clinical and Developmental Faculty of Psychology in

Indonesia

.

“Wah.. Kita jauhan lagi dong..katanya cita2 mau nikah muda, kok mau kuliah di Bdg lho?” tanya si mas yang waktu itu sudah kuliah Teknik Sipil di UPNV

Surabaya

.

I was like, suddenly hit by a bus that time….oh iya ya…?

Singkat cerita, setelah beberapa hari istikharah, waktu apply untuk UMPTN pilihan pertamaku adalah Fakultas Psikologi Universitas Airlangga di Surabaya. Banyak teman2 sekolah yang protes, kenapa nggak jadi ke Undip, padahal dari nilai hasil UMPTN kemudiannya, jelas2 aku masuk grade disana. Well, I dunno, it just felt so right for me to do it that time…thats all. Membayangkan kuliah psikologi di Unpad memang seru! Tetapi ketika terbayang lagi cita2 menikah muda yang kayanya sudah didepan mata, dan bahwa untuk itu maka aku harus kuliah di

Surabaya

saja, I’ll go for it instantly!!

Well, it’s just the matter of priority, right? :D

Ada

kejadian lucu waktu Ospek di Psikologi Unair. Waktu itu beberapa mhs baru (termasuk aku) dipanggil dosen dan kakak kelas untuk maju kedepan dan ditanya tentang alasan “kenapa memilih kuliah di psikologi?”

“Kepingin menambah percaya diri saya,” jawab seorang teman (oh, Mida, do u read this? Hihi)

“Ingin jadi Psikolog yang hebat,” jawab seorang yang lain

“Maklum, mau masuk ke kedokteran tapi nggak ketrima, jadi pelariannya kesini,” jawab yang lain lagi :D

Waktu giliranku untuk menjawab, dengan polos kubilang “Karena saya bercita-cita jadi Ibu Rumah Tangga..!!” Geerrr…semua jadi ketawa.

Hari itu aku pun puas jadi bahan olok2an senior. “Hari gini…mana ada cowo yang mau sama cewe tradisional kaya kamu, maunya jadi ibu rumah tangga saja??? Nggak pengen maju!! Paling cuma bisa ngabisin duit suamimu!! Bisa-bisa diculik kalangan feminis kamu!!” seru seorang senior. Hehe, maklum lagi masa2 ploncoan…belakangan dia juga ngaku kalau menurutnya cita2ku itu bener2 “original” (ini persisnya kata yang dia pakai)…hehe. Kujawab saja, “Iya mas, dan mudah sekali diwujudkan, tinggal menikah, punya anak, tercapai deh!” :D

Sadar bahwa putri satu2nya berada jauh di Surabaya (satu

kota

dengan si pacar lagi), orangtuaku nggak perlu waktu lama untuk mengingatkanku pada cita2 awal (nikah muda itu tadi :D). Si mas pun, sudah mafhum bahwa nggak akan lama sebelum aku mendesaknya untuk menikahiku (hahahaha ngebet banget sih kesannya?? Abis gimana lagi? Sekarang setelah lulus SMA, nggak ada alasan lagi untuk menunda

kan

? *alasan.com* hihihi).

Nah…Masalahnya, calon mertua waktu itu belum mafhum karena rupanya si mas tidak pernah mengungkapkan kepada mereka tentang cita2ku ini…(“biarlah kalau sudah mau terjadi, baru aku ngomong” gitu katanya).

Mereka sempat shock begitu si anak laki2 sulung mereka yang masih 20 taun, minta nikah!! Si mas cerita, selama seminggu, beliau2 seperti orang linglung, kesana-kesini minta pendapat orang2 yang dituakan, ustadz dan lain-lain. Alhamdulillah, setelah sampai pada kesimpulan bahwa memang sebaiknya yang namanya menikah itu harus disegerakan, dan melihat keadaan kita yang sudah berhubungan seperti ini menjadikan hukumnya WAJIB untuk segera menikah, maka ijinpun turun…

Hari Jumat, 3 Mei 1996 dengan semata-mata ijin dan kuasa Allah SWT juga lah akhirnya kami pun menikah…. Waktu itu, saya masih berumur 19 tahun dan duduk di bangku kuliah semester 2. Sedangkan suami berumur 20 tahun dan semester 4.

:-)

Yang paling mengharukan adalah selesai akad nikah, ketika sungkem pada ibuku, kita berdua menangis lama….(subhanAlloh…inilah jawaban Allah atas doa2mu, Ibu..)

***

(Ingin tahu bagaimana kami menjalani waktu2 pertama pernikahan kami? Membentuk rumah tangga dan keluarga baru di usia yang masih sangat muda tentu sangat beresiko karena emosi yang masih labil. Bagaimana kami harus bergelut dengan masalah finansial dan ekonomi sementara di sisi lain jadwal kuliah, tugas dan praktikum di kampus sedang sibuk2nya? Well…biar nggak capek dan bosan bacanya, tunggu saja di postingan berikutnya ya… ;-) hehehe)

Bookmark and Share

Mood Trouble (Again??)

August 25th, 2007 by cikicikicik

I had several problems with my Friendster account for these past few months. Unable to post any comment (anywhere in all of my contact’s too), several error occured while posting in my blog, to the confuses during all of those new stuff the FS admin put on my account. Well, I can understand because FS seems to go ahead and improve their services. But still, this is bugging me anyway…

Plus…

Meanwhile, I got a new place that is just amazing to put all my daily stuff. Multiply. It offers so much more than I got here (in term of blogging) and for now, I already extend pretty much wide network there.

So, its equal to Mood Trouble of Blogging here… I can’t help itu tough, at least for now…

:-S

****

Check my newest daily activities out in my Multiply :

http://cikicikicik.multiply.com

Regards

:-D

Bookmark and Share

[This Is Good] Kisah Luqman Al-Hakim

July 27th, 2007 by cikicikicik

Postingan aslinya disini.

KISAH LUQMAN AL-HAKIM

Dalam sebuah riwayat diceritakan, pada suatu hari Luqman Al-Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor khimar, sedangkan anaknya mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang di pasar pun berkata, “Lihatlah orangtua itu yang tidak bertimbang rasa menaiki khimar, sedangkan anaknya dibiarkannya berjalan kaki.”

Setelah mendengar desas-desus dari khalayak ramai, maka Luqman pun turun dari khimarnya, kemudian dinaikkannya anaknya diatas khimar itu. Melihat yang demikian, maka sebagian orang pasar itu berkata pula, “Lihatlah itu, orangtuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enak menunggang khimar itu, sungguh kurang beradab anak itu!”

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik keatas khimar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang-orang di pasar pun berkata lagi, “Lihat dua orang itu, menunggangi seekor khimar, sungguh kasihan khimar itu.”

Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari khimar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan khimarnya tidak ditunggangi, betapa mubazirnya.”

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman Al-Hakim menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka. Katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah SWT saja. Barangsiapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangan dalam segala hal.”

(Dari Buletin Al-Ummah)

hemm…memang kalo mau nuruti apa kata orang, capee deehhh… :-D

Bookmark and Share

Liburan Kuliner di Kampung

July 11th, 2007 by cikicikicik

Bapak
Gara-gara modem dirumah Kakung
dudul, jadi gak bisa online deh…ini ngeblog aja musti ke warnet loh…hi hi hi.
Tapi hebat, warnet di Tulungagung udah pada bagus dan rame nih…

Berikut ini journal selama
beberapa hari liburan di kampung di Tulungagung…(full acara makan pokoknya)

 

Hari Minggu, 8 Juli 2007, pagi jam
8 kita meluncur ke Tulungagung. Perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari
biasanya karena tidak ada Bapak yang suka godain anak2 (dan godain Ibuk juga
hihihi) dan melucu di sepanjang perjalanan. Pagi tadinya si Bapak plus Om Jess dan Om Kus memang berangkat ke Bogor dengan mobil Om Kus. Kangen ya…sebenarnya tadi malam (Selasa malam) Bapak udah ada di Surabaya, tapi baru nanti sore nyusul ke Tulungagung.

Sesampainya di Tulungagung tengah
hari, Ibuk yang kelaparan (karena tadi pagi nggak sempat sarapan sendiri) langsung
disambut “Sego Bantingan” ala Tulungagung he he aduh nikmatnya…Setelah hampir
setahun booming, rupanya Sego Bantingan masih ngetrend juga rupanya (dan
nikmatnya tak sedikitpun berkurang).

Fyi, sego Bantingan ini kalo di Surabaya disebut "Sego Sadhukan", di daerah lain pun punya nama khas sendiri-sendiri, dari "Sego Kucing" (di Jogja) sampai "Nasi Lempar". 
Ha ha ha aku pertamanya geli banget liat
namanya yang konyol dan beberapa berbau vandalisme gitu.

Itu istilah2 lain dari Nasi
Bungkus yang sebenarnya (maksudnya nasinya sekepal -makanya disebut nasi
kucing, maksudnya seporsinya kucing he he-, trus lauknya juga sekedar telur
separo atau ayam sepotong keciillll, plus sekelumit mie goreng, sambel goreng
sekedarnya, pokoknya semua ala kadarnya). Harganya juga dibanting alias murah
meriah (di Tulungagung cuma Rp. 1500 tapi dijamin nikmatnya masyaAlloh…)
mungkin ini kenapa dikasih nama sego bantingan ya ha ha ha

Secara resmi, dimulailah liburan
yang penuh petualangan kuliner ala kampung halaman tercinta ha ha ha. Sorenya, karena
pas banyak sodara yang (katanya Emi) punya gawe, jadinya sampai malam menu kita
adalah nasi2 hantaran yang khas old fashioned ala kampung gitu!! Aduh mak
nyuss… Sambal goreng kentang+ubi yang kering dan pedas, mie goreng bumbu bawang
dengan potongan kubis yang lebar2 dan taburan bawang goreng, sayur ‘lotho’
(kacang merah khas daerah sini) yang coklat pekat dan pedas, daging lapis
berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu) plus (ini yang paling
mak nyuss) tahu goreng yang dimasak santan dan pedaaasss (alamak bener2 siap2 tambah
cempluk deh sepulang liburan ini hueheuheuh).

Menu untuk anak-anak, sorenya Mbak
Upik beliin sate ayam ponorogo Ibu At (depan perumahan bea cukai kedungwaru)
favorit anak-anak… Malam itu Ibuk dan anak-anaknya berangkat tidur dengan perut
cempluk semua he he… Alhamdulillah…

 

Senin, 9 Juli 2007

Hal yang paling menyenangkan anak-anak
ketika berlibur di Tulungagung, tentu saja adalah berkumpul dengan keluarga.
Kakung-Uti, Asnan (Uwa)-Mbak Emi dan Sena-Aaliyah. Apalagi ini sedang
menghitung hari, sebentar lagi si Aaliyah punya adik. Asnan-Emi yang 12 Juli
tahun ini genap 5 tahun menikah, sudah ‘menghasilkan’ 3 anak lho (wah produktif
ya he he). Btw, cerita selengkapnya tentang Asnan-Emi bisa dibaca disini.

Eh, ada lagi yang spesial lho.
Entah disengaja atau tidak, setiap kita yang dari Surabaya dateng rame-rame gini, Bu Kipir (tukang masaknya Uti) selaluuuu menyajikan menu2 yang jadi favorit kita (eh,
kalo dipikir2 lagi, mungkin juga karena nggak ada tuh namanya menu kampung yang
nggak favorit, alias semua enak dan ngangeni hi hi hi). Seperti hari ini, dar
pagi sebenarnya aku sudah mengincar beli lodho, tapi langsung kubatalkan demi
tahu kalo Bu Kipir masak Pecel Lele. Apalagi anak-anak ternyata juga sudah
enjoy dengan rawon masakan Uti. Wah…hi hi

Pecel Lele ala kampungku ini
bukanlah paduan lele goreng+sambal+lalapan lho. Bukan! Pecel Lelenya dimasak
dari lele yang dibakar asap (biasanya beli di pasar sudah dalam bentuk dibakar
gitu), dengan bumbu sambal goreng putih (minus cabe merah) yang pedesss, belimbing
dan tomat (kebayang khan segernya he he) dan santan kental. Alamaakk… Kenikmatan makannya jadi tambah
sempurna demi melihat wajah Bu Kipir yang senyum2 bahagia dan puas karena
masakannya dapat sambutan seperti yang diinginkannya…he he

Trus siangnya, ada menu segar, es
dawet Pak Eko (depan BCATulungagung)…masyaalloh segarnya. Dawetnya P. Eko ini
aku suka banget karena aroma pandan dari dawet hijaunya kental banget (aduh
kalo dipikir lagi apa sih yang aku ndak suka?? Hi hi). Bea juga suka banget
dawetnya, sampai2 tiap ada orang yang makan, dia langsung mendekat dengan wajah
mupeng, “Es dawet ya? Bea mau…!!”

Malamnya, menu ganti lagi (wah).
Sudah dari sore Abe wanti-wanti ndak mau makan, karena nanti malam mau makan
Mie Goreng Kabayan (depan LP/penjara TA) kesukaannya. Asal tahu aja, Abe (dan
juga Bea) seperti sudah ketagihan sama mie gorengnya P.Bayan ini, tak pernah
sekalipun kunjungan ke Tulungagung terlewat tanpa sempat makan menu ini.

In the end of the day, dalam hati
janji2 deh, besok kalo udah pulang ke Surabaya, porsi yoganya Ibuk bakal
ditambah 2 kali lipat deh!! Ha ha ha

 

Selasa, 10 Juli 2007

Beberapa kali Emi sudah merasakan
sakit pinggang. Wah kayaknya hari melahirkan bakal ndak lama lagi nih. Kubilang
pada si jabang bayi didalam perut “ayo nak, kalo mau keluar cepetan aja gih,
mumpung Ibuk Anti masih disini, jangan ntar Ibuk Anti pulang ke Sby trus kamu
lahir..!!” He he.

Pagi-pagi (sesuai rencana), kuajak
Bea beli lodho.

Ada kejadian lucu. Waktu

kejadian lucu. Waktu menunggu penjualnya menyiapkan lodho plus sayur lothonya
yg superpedas itu (lebih bertindak sebagai sambel alih2 sayur saking pedesnya),
tiba-tiba Bea nyeletuk dengan suara keras, cadel dan lucunya itu “Mana Odhol
nyaaa??? Ituuu diaaaa odhoolnyaaaa…!!” sambil dengan semangat nunjukin panci
besar berisi lodho ayam. Semua langsung ketawa ha ha. Dari pagi memang dia
menjalani semacam latihan mengucapkan kata2 “lodho” dan seringkali kepeleset
jadi “odhol”. Tahu kalo dikatawain, dia malu-malu bilang (menirukan ucapanku
sebelumnya tiap kali dia kepeleset ngomong) “odhol nya di kamar mandi ya Buk?
Buat gosok gigi yaa??” Ha ha ha. Hancur deh dia jadi sasaran cubitan beberapa
ibu dan mbak2 yang juga lagi beli lodho.

Jangan minta aku tuliskan
bagaimana nikmatnya nasi lodho ayam deh…satu2nya cara hanya satu : datanglah
sendiri ke Tulungagung, dan makan nasi lodho disitu!! Sudah tak terhitung rasa
rindu dendam muncul di hati (atau pikiran?atau lidah?atau perut?hehe)
orang-orang asal Tulungagung yang merantau atau hidup di daerah lain (seperti
aku ini). Juga tak terhitung lagi deh orang-orang daerah lain yang akhirnya
jatuh hati dan merindu dendam juga sama makanan khas Tulungagung ini (seperti
juga suamiku).

Pada penasaran? Biar aja…he he he

Sorenya ada kejutan lagi dari Bu
Kipir (lama2 memang aku curiga bahwa dia memang benar2 sengaja masak2 yang
kesukaanku tiap kali aku disini lho, sumpah! Hi hi mungkin dia juga ketagihan
sama rasa puas yang dirasakannya tiap kali mataku terbelalak demi liat
masakannya dan berlanjut dengan acara makanku yang sangat berseleran he he).

Punten Pecel. Satu lagi magnet
asal Tulungagung yang sudah teruji
kehandalannya dalam membuat orang-orang yang pernah merasakannya, jadi
ketagihan.

Para perantau bisa-bisa memimpikannya di malam yang riuh di perkotaan. Anak-anak kost pada rindu ibunda
dan kampung halaman Tulungagung Bersinar tercinta, dan para pendatang yang
pernah merasakan, bisa-bisa bertekad menikah (atau besanan) saja sama orang
Tulungagung biar lebih gampang merasakannya. Ha ha ha ha hiperbola banget ya!!!

Punten Pecel sebenarnya hampir
sama dengan Nasi Pecel. Sambel kacangnya sama. Sayur2annya relatif sama (tapi
yang paling oke untuk punten pastinya kembang turi doong). Lauknya juga sama,
biasanya tempe goreng dan terasi kedele (terasi kedele ini, juga cuma ada di Tulungagung lho
hi hi). Yang membedakan (dan yang membuat istimewa) adalah bahwa menu ini tidak
menggunakan nasi biasa, tapi menggunakan punten. Punten ini adalah nasi yang
dimasak ala nasi uduk (dengan bumbu santan, daun salam dan garam). Setelah
masak dan tanak, dalam keadaan masih panas si nasi ini ditempatkan di lumpang
beralas plastik, kemudian dijojoh (di pukul2) dengan ‘gedebog’ (bonggol batang
pisang - bukan pohon lho, tapi batang) sampai lengket, lembut dan kalis
menyerupai uli. Setelah dingin, baru kemudian dipotong2 kotak untuk kemudian
disajikan dengan sayur, lauk, sambel pecel dan kerupuk unyil. Oya, khusus
tentang kerupuk unyil ini, juga cuman ada di Tulungagung (alamak), kebetulan
pabriknya deket rumahku dan huenaaakkkk nya nggak tertandingi kerupuk manapun
didunia (hiperbola lagi deh ha ha).

Aku sendiri di Surabaya seringkali masak punten pecel. Tapi
tetap saja tidak akan bisa sama dengan punten pecel yang dimasak di kampung.
Bagaimana bisa sama, aku seringkali menjojoh pake alu batu (karena susah sekali
mendapatkan gedebog di sby).

Tempe Surabaya juga berbeda dengan tempe tulungagung. Kalo sambelnya sih
beres karena aku selalu dikirimi Ibuk sambel bikinan Bu Kipir yang maut itu he
he.

MasyaAlloh…nikmat sekali…(sekali
lagi) tadi malam itu aku berangkat tidur dengan perut kosong (kebalikannya
maksudnya hi hi hi)..

 

Hari ini, Rabu, 11 Juli 2007

Emi semakin sering merasakan sakit
pinggangnya. Asnan sempat bilang, kalo sampe lahirnya si jabang bayi besok (tgl
12 Juli) berarti barengan sama 5th anniversary pernikahan mereka
ya?? Pasti seru juga, 5 tahun pernikahan ditandai dengan kelahiran anak ketiga
he he.

Abe udah semangat menyambut adik
sepupu baru. Kalo dia memberi julukan Aaliyah ‘blokotito’ (ndak tau deh
darimana dia dapat kata2 itu hi hi), maka si jabang bayi yang belum lahir,
sudah disiapkannya julukan, yaitu ‘betita’…ha ha ha ada2 aja…

Rinduku sama mas iwan sudah hampir
tak tertahankan (hikss), apalagi bulan2 ini memang dia sibuk banget, dari
urusan buka gudang baru di Jember sampe lihat2 perkebunan sawit di Balikpapan. Ini aja sebenernya kepergian ke Bogor gak ada rencana yang khusus selain nemenin Om Kus, tapi karena sekalian pengen
nonton bola Piala Asia di Senayan (alamak) jadinya dibelain pergi deh… Ah
tinggal sebentar, nanti sore juga khan dia nyusul kesini hueheheheh

Menu hari ini belum tahu, aku
belum sempat ke dapur Bu Kipir di belakang dan sarapan…semacam agak2 protes deh
dari tadi si perut…minta ke kamar mandi terus (ha ha ha). Kuputuskan untuk
istirahat mengunyah barang sebentar hi hi. Tapi nanti kalo si mas udah datang,
wah mana bisa kutolak, dia pasti ngajak makan diluar…nasi pecel plosokandang
nduk!!… Bakwan depan golden swalayan yuuk!!…pingin sate kambing P. Nyoto
(depan Barata) nih cay!!…alamaaakkkkk…..

 

(PS : sorry kalo gambarnya nggak
nyambung sama isi postingannya ya…abisnya kangen…hikss..)

 

 

Bookmark and Share

Abe dan Toilet

July 6th, 2007 by cikicikicik

Sign_1

Ada yang lucu kalo punya anak cowo…

Sekarang tiap pergi ke tempat umum dan Abe minta pipis, selalu deh pake acara bertengkar sama aku… Gara-garanya, si Abe selalu minta masuk ke toilet PRIA.

"Lha aku kan cowok Buk…"

"Iya tapi kalo Abe masuk toilet PRIA, Ibuk gak bisa awasin Abe… Ayo, gpp kan Abe masih anak2, ke toilet WANITA aja ya…?"

"Ndak mauuu…biarpun anak-anak, tapi kan Abe lho cowoooo…!!"

"Kalo lagi pergi sama Bapak juga, Abe boleh deh ke toilet cowo, Bapak kan bisa ikut masuk untuk mengawasi… Ibuk kan ndak boleh masuk toilet PRIA…? Trus kalo di tempat umum gini anak-anak kan harus diawasi terus kan?"

"Halaaaaahhh Ibuuuukkk…keburu kebelet nih…!!"

"Ayo makanya ke toilet WANITA aja yuukkk"

"Aku ini M-E-N, men! Masuknya toilet ya harus di MEN..!!"

Sering2, tanpa menunggu lebih lama (karena udah kebelet kali ya) Abe trus langsung keburu masuk toilet PRIA tanpa persetujuanku. Kalo sudah begitu, aku (dengan cemas) terpaksa menunggu di depan pintu, sambil seringkali diliatin dengan aneh sama pria2 yang keluar masuk toilet. Apalagi kalo toiletnya besaaaar dan rameeee macam di mall gitu, tiap ada bapak2/om2 yang buka pintu untuk keluar masuk, aku selalu curi2 melongok kedalam toilet mencari Abe. Tambah aneh deh tatapan mereka…

Duuuhhhhh…..

Bookmark and Share

What a Lazy Day…

July 4th, 2007 by cikicikicik

What a lazy day…khas suasana liburan sekolah. Since Abe came up with the idea that he should be going nowhere during holiday, so here we comes….ngendon dirumahhh!!! hueheheh

Sepanjang hari dirumah ternyata menyenangkan juga, apalagi kalo liburan sekolah gini, rumah selalu penuh anak2 tetangga kanan kiri yang main. Dari yang seumuran Bea, temen sebaya Abe sampai cewe2 abg (yg sudah sejak kanak2 dulu mereka terbiasa menghabiskan waktu main dirumahku) rame main dirumah…extra cleaning work for sure, but its so much fun!!!

Just for a week anyway, next week Uti must be waiting for us to come to her house di kampung…so for the second week of holiday, ‘ll be prepare to grab those delicious food back hometown…n prepare to gain weight another 2 kilos ha ha

Tadi si Putri n Anis coba2 bikin rujak, resep baru katanya.."Tante…aku cari2 bahan di kulkasmu ya.."
"Boleh," kataku. Toh biasanya aku kebagian jadi pencicip pertama kalo anak2 lagi masak2 dirumah begitu huehheeh lumayan kan…

"Gimana Te? Enak gak?" tanya Putri ga sabar (anehnya dibelakangnya si mbak Prapti n mbak Pin lagi ngumpat2 ringan)
Sekilas kucoba, "Enak put, seger, kecutnya pas, kamu pake jeruk nipis ya?"
Tapi lama-lama….

"Aduh Puuuttt, pedesnyaaa!!! Ampuunn!!!!" dada sampe panas!!! Dasar Putri, dia cuman cengengesan aja…"Kasih Om Iwan aja nih, kalo sepedes ini, duuuhhh!!!!"

alamak………

Bookmark and Share

Anak2 Datang dan Pergi, Ibu Guru Tetap Menyayangi

June 30th, 2007 by cikicikicik

Dsc046871 Kemarin –Sabtu, 30 Juni 2007- adalah acara perpisahan di TK nya Abe. Di akhir acara, semua anak satu angkatan (75 anak dari 3 kelas) bersama-sama naik panggung, berdiri ala paduan suara. Bersama-sama mereka menyanyikan sebuah lagu perpisahan yang meskipun tidak jelas liriknya, tapi sangat terasa syahdunya.

Melihat anak2 tak terasa air mata langsung mengalir haru. Beberapa teman walimurid sempat mengejek aku yang memang –seperti biasa- gampang sekali mewek terharu. Eh, tak berapa lama ditengah2 lagu, kulihat satu per satu mereka kok ikutan nangis juga, hiks…gimana sih (he he).

Di samping panggung berjajar semua ibu guru. Beberapa guru kelas terlihat melakukan beberapa isyarat untuk memberi instruksi anak2 dalam menyanyi. Tak perlu waktu lama kulihat banyak yang sudah sesenggukan juga. Ah! Suasana waktu itu memang syahdu banget..!! Percaya atau tidak, anak2 yang biasanya kalo dipanggung adaaaa aja yang berulah, kali ini sama sekali tidak!! Mereka tekun menyanyi dengan syahdunya. Aduuhhh….

Melihat para guru yang beberapa sampai sesenggukan itu, aku jadi berpikir. Salah satu hal yang pasti menjadi moment yang sangat berat buat para guru, mungkin adalah moment seperti ini. Ketika mereka harus melepaskan anak-anak yang lulus. (Mikir itu waktu itu, air mata jadi tambah deras deh T_T). Tak terbayangkan rasanya…

Dari awal masuk TK, sehari-hari dunia mereka penuh dengan anak-anak didik. Waktu banyak dihabiskan di kelas dengan anak-anak (apalagi kaya sekolahnya Abe yg fullday gitu). Di rumahku, hanya dengan 2 anak-anak saja sudah tak terhitung kelucuan, kekonyolan dan kejadian2 spesial yang terjadi (dari kecelakaan2 kecil sampai kebandelan2 yang menguji emosi) . Apalagi di kelas!!

Ada

25 anak-anak dengan kelucuan dan kebandelan sendiri2. Kesannya pasti sangat dalam buat Bu Guru yang rata-rata memang modelnya penyayang anak itu (maklum guru TK).

Waktu melihat Bu Guru mulai sesenggukan demi melihat anak-anak menyanyi di panggung kemarin, aku jadi mengira-ngira apa yang ada dipikiran mereka. Harus merelakan anak-anak yang sudah sangat dekat di hati itu untuk meneruskan sekolah ke SD, meneruskan perjuangan mereka mencapai cita-cita. Membayangkan hari-hari kemarin berada ditengah-tengah hangatnya anak2 dan hari2 selanjutnya yang hanya tersisa kenangan. Pantas saja kalo sangat mengharukan, pasti terbayang satu2 wajah anak2 dan terbayang segala kejadian berkesan yang dialami selama bersama anak-anak.

Aku sendiri termasuk walimurid yang sangat sering ‘berkeliaran’ di sekolah. Maklum ibu rumah tangga, tak ada pekerjaan lain selain ngurusin anak-anak. Secara pribadi, aku sangat dekat mengenal para guru, bukan hanya yang kebetulan mengajar Abe.

Karena tugas dari Komite Sekolah, kalo ada guru yang sakit, seringkali aku datang menjenguk. Begitupun kalo ada yang melahirkan, tertimpa musibah (misal lumpur lapindo atau kematian anggota keluarga), aku seringkali datang kerumah mereka, berinteraksi dengan keluarga mereka dan lain sebagainya. Aku jadi tahu betapa dekatnya para guru dengan anak2. Ketika mereka berkumpul pun, topik yang dibcarakan adalah juga anak2. Tentang si Pasya yang susah dilarang kalo sudah mengejar pingin peluk si Amel, tentang si Ghofur yang suka menyusup ke kelas lain, tentang Chalita yang dorong2an bertengkar dengan Ofi di kolam renang. Everything! Kalau dipikir2, waktu yang dihabiskan ibu guru disekolah dengan anak2, bisa-bisa sama intensitasnya dengan waktu yang mereka habiskan dirumah bersama anak2 kandung mereka sendiri.

Rasa sayang dan kedekatan mereka kepada anak2 kita, bukan mustahil sama dengan rasa sayang kita yang orangtua kandung ini…

Jangan bayangkan guru TK akan sama dengan guru SD, SMP atau SMA lho!! Guru-guru TK ini, mereka bukan hanya mengajar, mereka juga mengasuh dan menjaga. Mereka menenangkan ketika anak2 kita rewel. Mereka membelai rambut anak-anak kita ketika bersalaman. Mereka merawat luka anak-anak kita ketika terjatuh. Mereka memberikan pelukan ketika anak-anak kita membutuhkannya. Mereka menyayangi dengan sepenuh hati…

Dalam sesengukan Ibu Guru kemarin, aku melihat semua…

Mereka melepas anak-anak pergi….

Mereka menyiapkan hati untuk siap menyayangi lagi, murid2 angkatan baru yang nantinya akan menghiasi hari-hari mereka lagi…selama 2 tahun….untuk kemudian melepas mereka lagi ketika lulus nanti…

Tak terbayang banyaknya rasa sayang yang ditebarkan para guru untuk anak-anak selama bertahun2 mereka mengajar ya…

Aku jadi rindu dengan guru TK ku dulu….

Namanya Bu Sangadah. Terakhir aku melihatnya sekitar 2 tahun lalu di Tulungagung, beliau sudah renta (maklum waktu dulu aku TK, dia adalah guru senior yang sudah setengah umur). The point is, dalam memoriku masih jelas tergambar sosoknya ketika mengajarku 26 tahun yang lalu. Masih jelas tergambar

gaya

sanggul rambutnya, tahi lalat besar di pipi kirinya, senyum teduhnya tiap kali menyambut di pagi hari, badannya yang agak membungkuk (mungkin karena terlalu banyak merendahkan wajah untuk bicara dengan anak-anak), sepatu hitam ala minnie mouse yang kuingat tak pernah berganti selama aku TK dan suara ketak-ketok yang ditimbulkan ketika beliau berjalan, aku masih bisa mengingatnya lho!! Suara seraknya yang tiba-tiba bisa menjadi tegas kalo menghadapi anak yang bandel, rasanya masih bisa kudengar dengan jelas terngiang di telingaku sekarang!! (aduh Ibu…doaku untukmu…)

Tak terbayang, berapa banyak para murid yang sampai sekarang masih mengenang beliau seperti aku. Seluruh hidupnya, yang beliau lakukan hanya mengajar dan mengajar. Kubayangkan hatinya sekarang pasti sudah berkemilau selaksa batu berlian karena terasah dan tersepuh untuk mencintai anak-anak didiknya silih berganti. Menerima mereka dalam asuhan kasih sayangnya dan melepas dengan doa dan haru airmata ketika anak-anak itu lulus sekolah. Subhanalloh…

Benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Seperti sebuah puisi yang pernah kubaca, “Ibu Guruku…kau adalah bagian dari doa malamku…”

(nostalgia tentang Bu Guru kita yuuk…)

Bookmark and Share