Menikah Muda Part 4 : Tabungan Kami di Dunia dan (hopefully) di Pintu Surga
September 27th, 2007 by cikicikicikCerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1, Part 2 dan Part 3
Sepulang dari acara “PsychoCamp” sekitar Bulan Juli 1997. Ah, satu lagi acara yang menguras tenaga. Tentu saja. PsychoCamp adalah acara rutin Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi Unair dalam rangka orentasi mahasiswa barunya setiap tahun. Bertema alam, setiap tahun kemping diadakan selama 3 hari di hutan/bumi perkemahan. Acaranya tentu saja full outdoor activities khas emping macam hiking, outbond games (waktu itu yang namanya outbond belum seperti sekarang sih) sampai jurit malam dan api unggun.
PsychoCamp 1997 memberi warna beda dibanding tahun sebelumnya. Tahun 1995 posisiku sebagai mahasiswi baru, dan tahun 1996 aku absen karena harus mengambi cuti kuliah ketika pergi haji. Ditambah sedikit pelarian dari keadaan rumah tangga baruku (lihat di Part 3), maka di PsychoCamp 1997 itu semangatku selama kemping serasa membuncah sedikit melebihi yang seharusnya.
Ada
bagian dalam diriku saat itu yang tanpa kusadari ternyata sangat merindukan berkegiatan dengan teman-teman (kuliah). Tahun sebelumnya terasa amat panjang, penuh gejolak dan perubahan yang cukup drastis dalam hidupku, dari urusan pernikahan sampai dengan pergi menunaikan haji. Belum lagi perubahan status dari sekedar mahasiswi menjadi juga seorang istri. Dari anak kost menjadi seorang menantu yang numpang dirumah mertua. Kalau ada yang membaca tulisanku ini merasa harus melongo melihat betapa cepat hidupku berubah dalam kurun waktu setahun itu, percayalah, aku juga!
Tetapi, bahkan puncak adrenalin pun ada batasnya. Setelah beberapa waktu exciting dengan segala perubahan yang terjadi, ada masa dimana kemudian aku merindukan sesuatu yang telah hilang (atau sebenarnya tidak hilang, hanya berubah). Teman-teman, kampus dan segala pernik khasnya, organisasi yang sejak SMP selalu menjadi rumah kedua, semua yang aku tahu harus banyak terkurangi begitu aku menikah.
Maka acara PsychoCamp 1997 itu serasa jadi momen kembaliku. Melepas kerinduanku akan serunya berkegiatan dan ngumpul dengan teman-teman. Energi yang kukeluarkan lewat pikiran dan semangatku waktu itu, tanpa kusadari melebihi kapasitas tenaga fisikku. Begitu pulang ke rumah (rumah mertua maksudnya :-D), aku sempat mengalami kelelahan yang cukup parah.
Sampai sekitar seminggu kemudian, kusadari bahwa si tamu bulanan sudah 3 minggu telat datang… Nggak mengkhawatirkan juga karena memang biasanya si tamu itu tidak teratur datangnya, kadang terlalu cepat, kadang juga bisa lama telat… Mas Iwan lah yang kemudian iseng pulang bawa testpack kehamilan…dan ternyata memang hasilnya POSITIF!
….Alhamdulillah…!! Kami semua tenggelam dalam rasa syukur yang dalam…
Tentang bagaimana semua orang semangat, sudah kutulis juga di tulisan terdahulu (lihat Part 3). Si bayi sempat kujuluki “The First”, since he/she will be the first of everything (child, grandchild from both sides of family, nephew, everything). Bahkan ketika masih berusia 2 bulan dalam kandungan, dia sudah merebut hati semua orang dan menjadi tumpuan harapan kami semua. Tentu saja, terutama aku dan suami. Semua sudah penuh dengan rencana-rencana menyambut datangnya “The First” kami. “Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk dia, menabung sebanyak mungkin uang didunia ini untuk kalian berdua” kata suami waktu itu yang tak urung kutingkahi dengan ngeri khawatir. Masih mungkinkah ada yang namanya bekerja “lebih keras” lagi daripada dia waktu itu?
Tidak mengherankan jika kemudian awal kehamilanku menjadi sangat menyenangkan. Selain karena dari sebelum baligh pun aku sudah membayangkan betapa cool nya kalau aku nanti hamil, juga karena semua orang kelihatannya tidak ingin melakukan apa-apa kecuali memanjakanku. Aku bahkan sangat menikmati morning sick yang katanya menyebalkan itu
Suatu sore kira-kira 2 bulan kemudian, sepulang kuliah aku dan mas sedang jalan ke toko buku. Saat pergi ke toilet, aku mendapat kejutan berupa flek merah yang cukup banyak. Jelas-jelas merah. Dan banyak! Tak terbayang panikku saat itu. Dengan motor kami langsung pergi ke dokter. Parahnya, antrian sedang banyak dan baru sekitar 4 jam kemudian aku tertangani dokter, itupun setelah mas memaksa-maksa suster penjaga dan mengatakan kalau ini keadaan darurat! Antrian di beberapa dokter2 kandungan senior di Surabaya memang sudah nggak masuk akal!
Singkat cerita akupun berakhir bedrest di RS malam itu…
Ada hikmahnya juga antri lama, karena memberi waktu ibukku datang dari Tulungagung ketika aku masuk kamar RS. Sungguh hanya beliau yang bisa membuat tenang hatiku. Masih besar harapan, kata dokterku, asal aku bedrest. Sampai berapa lama? Salah satu dari sedikit dokter kandungan wanita yang senior itupun mengangkat bahu. Kita lihat saja nanti…Yang jelas, pasien disebelahku bercerita kalau dia harus bedrest total selama kehamilannya. Sudah 6 bulan dia “tinggal” di RS Darmo
Surabaya . Beri kami kekuatan Ya Allah…begitu batinku terus. Saat itu akupun masih sempat memikirkan UTS yang sudah sebentar lagi. Beri aku kekuatan Ya Allah, aku ingin bisa ikut UTS atau kuliah akan molor lebih lama lagi karena semester sebelumnya aku sudah mengambil cuti.
Semua orang dengan berdebar mendoakan kami…Teman-teman kuliah tak ketinggalan menunggui di RS sambil secara sok tau menganalisa kenapa sampai aku keluar flek :D. Rata-rata menduga PsychoCamp lah sebabnya. (Percayalah, mereka memang benar2 teman yang patut dirindukan sampai sekarang :-D). Apa mau dikata, waktu itu memang aku belum sadar kalau aku hamil, dan memang aku beraktivitas selayaknya orang yang tidak hamil muda! Hiking naik turun bukit, ikut loncat2 selama games, dan banyak lagi. Yah…meskipun mungkin benar, yang pasti Allah pasti punya rencanaNya sendiri. Banyak juga kulihat ibu-ibu yang walaupun hamil muda tetapi tetap aktif bahkan bekerja, dan bayinya terbukti baik-baik saja. Semua ada ditangan Allah…
Setelah 4 hari bedrest pun, kabar gembira itu datang. Aku boleh pulang, asalkan tidak banyak bergerak dan rajin minum obat. Kuliah boleh, asalkan dalam rentang waktu seminggu kemudian, dan flek tidak keluar lagi. Dan aku hanya boleh naik turun tangga sekali sehari (ruang kelas di kampus ada di lt. 3).
Baru 2 hari aku dirumah, dan ibukku pun baru sore tadi pulang ke Tulungagung. Malamnya, kurasakan sakit yang semakin lama semakin amat sangat menjalar di punggung bawahku. Semalaman sakitnya bukan berkurang, malah bertambah hebat. Selama ini banyak yang selalu mengagumi kemampuanku menahan sakit, tapi yang ini benar-benar tak tertahankan lagi. Tengah malam, susah payah aku pergi ke kamar mandi. Untunglah, nggak ada flek. Tapi kenapa sakitnya tak kunjung berakhir juga? Sekilas, aku melihat wajah ibu mertua yang ikut menjagaku, sudah menggambarkan rasa sedih yang pasti. Akan keguguran kah aku?? Oh, tidak Ya Allah, aku tidak boleh berhenti berharap padaMu…batinku terus menerus sesering rasa sakit yang amat sangat itu menghampiri. Aku cek lagi, tak ada flek yang keluar. Mengingat itu aku menjadi agak tenang dan memutuskan untuk mencoba tidur. Berhasil, karena memang aku kelelahan menahan sakit.
Sekitar pukul 4.30 paginya, aku terbangun karena sakit yang kurasakan menjalar lagi, dan rasa mendesak yang membuatku setengah lari pergi ke kamar mandi. Di terangnya lampu kamar mandi, jelas kulihat benda itu teronggok jelas di lantai. Bukan flek, bukan…ini lebih dari itu…”The First”-ku…
Lama dan lemas aku terduduk diam di lantai kamar mandi. Dengan wajah beku kulihat benda merah berlendir sebesar bola tenis didepan mataku. Punggungku yang semalaman terasa sakit, juga terasa beku…Pikiranku, hatiku, rasanya sekujur tubuhku memang membeku…tak berasa apa-apa kecuali kelu…
Sampai kudengar kemudian adzan subuh sayup2 terdengar….”Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun…” bisikku lirih dan sendiri…dengan bibir yang kurasakan bergetar, kemudian membeku…
Yang kuingat selanjutnya suara mas yang terbangun, agak lama juga kemudian kudengar dia menyebut bisik lirih yang sama. Yang kemudian mengangkatku, menggendongku dan membaringkanku kembali ke kamar tidur.
“The First kita mas….”, bisikku sambil kupeluk lengannya, kusadari baru pecah tangisku melihat lengan mas yang basah oleh air mata…
Waktu itu sebuah Kamis pagi di akhir Oktober 1997…
****
Senin paginya, teman-teman menyambut dengan gembira ketika aku datang ke kampus untuk hari pertama Ujian Tengah Semester. Begitu gembiranya mungkin, sampai-sampai tak ada yang menyadari gelayut mendung yang tak biasa di wajahku yang sebelumnya selalu cerah.
“Ingat, cuma boleh naik turun tangga sekali lho,” salah seorang teman mengingatkan.
“Mas Iwan aja suruh gendong Wahida keatas,” goda teman yang lain.
“Nggak papa, asal hati-hati naiknya, aku tunggu di kantin bawah ya,” jawab mas Iwan seraya menitipkan istrinya.
Selesai ujian, ketika banyak teman mengerubutiku, barulah aku cerita kalau 3 hari yang lalu aku baru saja dikuret, untuk mengeluarkan ari-ari si kecil yang sudah diminta kembali oleh Allah…
Sampai detik ini ketika aku menulis cerita ini pun, masih teringat betul suasana syahdu di ruang kelas tempat UTS diadakan itu. Kita menangis bersama, mereka menguatkan hatiku, saling menyeka air mata masing-masing di bangku ruang kuliah, berdoa bersama dan… ah, sekarang pun kerinduanku pada teman-teman jadi bangkit kembali. Kelak, akhir-akhir ini ketika beberapa teman yang menghiburku dulu itu mendapat ujian dan cobaan dari Allah menyangkut keluarga dan anak2nya, aku tidak bisa memberikan perhatian seperti yang mereka dulu berikan padaku (karena sekarang kita sudah hidup berjauhan dengan keluarga masing-masing). Bahkan sekedar memeluk bahagia ketika mereka melahirkan pun terkadang hanya bisa dilakukan lewat sms, chat setelah 3 bulan kemudian atau hanya via email. Duuhhh aku benar2 benar rindu kalian, sahabat-sahabatku, kalian lah penguat hatiku dikala aku rapuh…
Ada
seorang teman, aku memanggilnya mbak Lely. Dia lah yang paling paham soal agama diantara kami. Sambil memeluk dan mengelus pundakku, dia membisikkan kata-kata ini padaku, “Kalau ada seorang ibu yang ikhlas ketika anaknya diambil kembali oleh Allah SWT, InsyaAlloh, anak itu akan menjadi tabungan di akhirat kelak. Dia akan menunggu ibunya di pintu surga, dan akan terus menolak masuk sebelum Ibunya datang menjemput dan menemaninya memasuki jannah…Sungguh Wahida, aku begitu iri denganmu!”
Mbak Lely yang sangat kuhormati, kukagumi dan kusayangi ini, akhirnya selamanya tidak pernah mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang Ibu, karena sekitar tahun 2002 yang lalu, setelah baru saja 2 bulan menikah, mbak Lely meninggal karena kecelakaan lalu lintas yang dialaminya… (Ya Allah, doaku senantiasa untukmu mbak…)
Hikss… ^_^
(bersambung)






